Rabu, 29 Oktober 2014

BIENNALE JATIM__Wave of Dream 2007

Expand Messages
  • Riadi Ngasiran
    Message 1 of 1 , Dec 2, 2007 
    Jawa Pos, Minggu, 02 Des 2007,
    http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=315221



    Wave of Dream dalam Biennale Jatim 2007

    oleh: RIADI NGASIRAN

    Di ujung selembar daun bunga anthurium --seperti Wave of Love dan 
    sejenisnya-- sesosok lelaki berdiri menggelayut diterbangkan angin. Dilatari 
    awan gemawan, bergulung, beriringan di langit. Ia hendak menerbangkan 
    tubuhnya, mengayunkan lompatan ke bagian bawah di seberangnya, pada suatu 
    mobil mewah yang bagian depannya menyerupai daun. Sebagaimana fatamorgana, 
    daun-daun itu telah menerbangkan harapan yang makin jauh.

    Fenomena kembang Gelombang Asmara kini telah berubah menjadi Wave of Dreams 
    (lukisan dan instalasi ukuran 4 x 4,5 x 4 m, akrilik di atas kanvas, 2007) 
    akan hadir dalam Biennale Jawa Timur 2007, di Taman Budaya Jawa Timur, 11-24 
    Desember mendatang. Lukisan karya MaosArt, kelompok perupa dari Kota Batu: 
    Watoni, Andri Suhelmi, Zhirenk, Zainal dan A. Rokhim. Silang-sekarut 
    perdagangan tanaman bunga yang sedang mengalami booming itu memang berdampak 
    cukup mengejutkan di masyarakat.

    Bermula dari kondisi sosial yang menghentak, memberikan pijakan bagi 
    eksplorasi kreatif karya ini, kebetulan juga terjadi di daerah tempat 
    tinggal mereka, karya berupa lukisan dan instalasi tentang fenomena 
    anthurium, dihadapkan dengan sebuah interpretasi tentang bunga yang 
    meraksasa, sementara orang justru menjadi kerdil karenanya. Dari kasus ini, 
    saya menyaksikan betapa tetangga saya begitu keranjingan dan sempat terjadi 
    ketegangan psikologis dengan seorang juru ceramah di langgar yang kebetulan 
    menyinggungnya. Sebuah ironi yang menunjukkan "kebingungan masal" kita di 
    tengah-tengah krisis sosial yang tak berkesudahan ini.

    Biennale Jawa Timur merupakan bagian dari perhelatan seni rupa yang 
    menampung kreativitas terbaik seniman-seniman di provinsi ini. Sebagai even 
    berkala dua tahunan, kali ini telah memasuki kali kedua, memberikan jalan 
    guna mengukur sejauh mana kesenian, khususnya seni rupa di Jawa Timur 
    berkembang.

    Biennale Jawa Timur 2007 bertajuk Art in Social Context: Alienasi, diikuti 
    34 perupa. Dengan kurator Djuli Djatiprambudi dan co-kurator Syarifuddin 
    berusaha menunjukkan betapa kesenian tidak saja berbicara atas persoalan 
    dirinya sendiri tapi lebih meluaskan perspektif bagi pemikiran yang sedang 
    berkembang. Dengan sodoran tema tesebut, seniman berkesempatan membaca 
    persoalan seputar isu-isu kontemporer yang terkait dengan realitas sosial 
    yang dialami dan dipahami perupa sebagai individu anggota suatu masyarakat.

    Dari sini terlihat jelas posisi perupa sebagai bagian dari masyarakat yang 
    diasumsikan dapat mengekspresikan sepenggal potret suatu realitas sosial 
    dengan bahasa visual yang bebas dan memperlihatkan pencarian yang kuat dan 
    tajam. Problema sosial bisa muncul dari ruang sosial yang sempit atau luas. 
    Dimensinya dapat dilihat dari pelbagai indikator seperti kemiskinan, 
    keserakahan, dominasi, korupsi, asusila, kejahatan, kebisingan, kemacetan, 
    kemunafikan, kebrutalan, kemewahan, dan sebagainya.

    Dalam problema itu, secara menyeluruh memperlihatkan alienasi individu atau 
    masyarakat dari konfigurasi sosial secara global. Aliensi dapat dipahami 
    sebagai bentuk keterpinggiran, ketidakberdayaan, dan keterasingan individu 
    atau masyarakat dari dinamika sosial. Entitas yang teralienasi akan menjadi 
    sebuah paradoks dalam struktur masyarakat modern, dan posisinya selalu dalam 
    bingkai "ahistoris".

    Dalam tafsir M. Natsir Amrulloh, keterasingan itu sebenarnya adalah risiko 
    dari tindakan kita. Dalam karya berjudul Cloning (digital print, neon box, 
    100 cm x 200 cm, 2007), perupa muda kelahiran Jombang 23 Juli 1983 ini, 
    menunjukkan pemaklumannya akan sebuah program penciptaan baru, bukan sekadar 
    alat tetapi makhluk hidup. Kita diajak membayangkan, beberapa tahun ke depan 
    kita tidak perlu repot-repot pergi ke kantor urusan agama (KUA) untuk 
    menikah dan memiliki keturunan. Kita tinggal desain seperti apa manusia yang 
    akan kita ciptakan, Kita bisa atur bagaimana manusia ini berkembang, sesuai 
    dengan sifat, karakter, perilaku yang kita inginkan. Kita buat manusia 
    pegawai negeri, manusia pegawai bank, manusia pegawai swasta, tentara, 
    satpam, atau diri kita sendiri.

    Benny Wicaksono, perupa Surabaya yang aktif melakukan eksplorasi perupaan 
    pada media baru, menghadirkan Organic VJ. Sebuah penampilan video "real 
    time" dengan menggunakan CCTV dan video mixer. Gambar bergerak yang 
    dipancarkan di layar adalah hasil dari karya manual yang dikombinasikan 
    dengan video mixer sehingga menimbulkan gambar-gambar yang tak bisa 
    dibayangkan sebelumnya.

    Karya ini merupakan ikhtiar seniman dalam menangkap memori imajinasinya 
    terhadap sejarah alternatif yang sedang digalinya. Karya berpijak di tengah 
    perkembangan teknologi di tengah masyarakat secara naratif bersejarah 
    melahirkan individu kreatif. Dalam penghadiran karyanya, seniman mempunyai 
    ruang lebih besar untuk imajinasi, menorehkan pengalaman artistik dalam 
    kreasinya. Mulai dari masalah ketahanan urban, wajah kekacauan, wajah 
    globalisasi, merupakan taman yang menyemaikan persoalan manusia dan 
    kehidupannya.

    Perkembangan seni rupa di Jawa Timur, dengan biennale yang diikuti generasi 
    perupa baru ini semakin menunjukkan dinamika yang menjanjikan. Dinamika itu, 
    memang, tak hanya berada di kota besar seperti Surabaya, tetapi menyebar 
    hampir di seluruh kota.

    Berbagai kegiatan pameran seni rupa sering dilaksanakan, termasuk diskusi 
    seni rupa di kota-kota yang menunjukkan gairah berkesenian secara baik. Dari 
    kegiatan itu, tercatat kemunculan sejumlah generasi baru yang akhir-akhir 
    ini semakin beragam. Di antara mereka tetap ada yang setia melukis (Joni 
    Ramlan, Hadi Sucipto, Winarno, M. Rizky, Elyeser, Choirul S. Sabarudin, Tri 
    Moeljo, Romdhon, Mirza Said, Gatot Pujiarto, Fathur Rojib, dan Arif WibowoA) 
    dan seni patung (Ahmad Daldiri dan Totok Priyoleksono).

    Cukup banyak yang mulai menekuni karya seni rupa yang berbasis pada 
    eksplorasi media baru, seperti seni video (Agus Sam, Benny Wicaksono, Koko
    Triono
    , Astu P.), animasi (Ahmad Rofiq-Ainaki), instalasi multimedia 
    (Jopram, Jenny Lee, Watoni dkk., Dukan Wahyudi, Ruwaidah, M. Taufik), sound 
    art (Helmi), dan digital art (Natsir Amrulloh, Waluyo Hadi).

    Bila ada harapan, semakin membuka jalan bagi perkembangan seni rupa di Jawa 
    Timur dalam perbincangan nasional, bahkan pada skala yang luas lagi, bukan 
    sesuatu impian. Bukankah hakekat penyelenggaraan biennale dan even-even seni 
    rupa lainnya merupakan ikhtiar ke arah betapa arena seni rupa tidaklah 
    menyempit pada satu wilayah atau kawasan semata.

    Biennale Jawa Timur 2007 ini ditujukan demi menggali informasi dan pemahaman 
    yang lebih baik dan mendalam terhadap berbagai perkembangan seni rupa di 
    Jawa Timur dalam kontribusi bagi perkembangan seni rupa di Indonesia. Di 
    dalamnya merangkum tema dan problematika dalam relasi sosial dan kreativitas 
    seni rupa di Jawa Timur. (*)

    *) Riadi Ngasiran, penelaah seni rupa, tinggal di Surabaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar