- Jawa Pos, Minggu, 02 Des 2007,
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=315221
Wave of Dream dalam Biennale Jatim 2007
oleh: RIADI NGASIRAN
Di ujung selembar daun bunga anthurium --seperti Wave of Love dan
sejenisnya-- sesosok lelaki berdiri menggelayut diterbangkan angin. Dilatari
awan gemawan, bergulung, beriringan di langit. Ia hendak menerbangkan
tubuhnya, mengayunkan lompatan ke bagian bawah di seberangnya, pada suatu
mobil mewah yang bagian depannya menyerupai daun. Sebagaimana fatamorgana,
daun-daun itu telah menerbangkan harapan yang makin jauh.
Fenomena kembang Gelombang Asmara kini telah berubah menjadi Wave of Dreams
(lukisan dan instalasi ukuran 4 x 4,5 x 4 m, akrilik di atas kanvas, 2007)
akan hadir dalam Biennale Jawa Timur 2007, di Taman Budaya Jawa Timur, 11-24
Desember mendatang. Lukisan karya MaosArt, kelompok perupa dari Kota Batu:
Watoni, Andri Suhelmi, Zhirenk, Zainal dan A. Rokhim. Silang-sekarut
perdagangan tanaman bunga yang sedang mengalami booming itu memang berdampak
cukup mengejutkan di masyarakat.
Bermula dari kondisi sosial yang menghentak, memberikan pijakan bagi
eksplorasi kreatif karya ini, kebetulan juga terjadi di daerah tempat
tinggal mereka, karya berupa lukisan dan instalasi tentang fenomena
anthurium, dihadapkan dengan sebuah interpretasi tentang bunga yang
meraksasa, sementara orang justru menjadi kerdil karenanya. Dari kasus ini,
saya menyaksikan betapa tetangga saya begitu keranjingan dan sempat terjadi
ketegangan psikologis dengan seorang juru ceramah di langgar yang kebetulan
menyinggungnya. Sebuah ironi yang menunjukkan "kebingungan masal" kita di
tengah-tengah krisis sosial yang tak berkesudahan ini.
Biennale Jawa Timur merupakan bagian dari perhelatan seni rupa yang
menampung kreativitas terbaik seniman-seniman di provinsi ini. Sebagai even
berkala dua tahunan, kali ini telah memasuki kali kedua, memberikan jalan
guna mengukur sejauh mana kesenian, khususnya seni rupa di Jawa Timur
berkembang.
Biennale Jawa Timur 2007 bertajuk Art in Social Context: Alienasi, diikuti
34 perupa. Dengan kurator Djuli Djatiprambudi dan co-kurator Syarifuddin
berusaha menunjukkan betapa kesenian tidak saja berbicara atas persoalan
dirinya sendiri tapi lebih meluaskan perspektif bagi pemikiran yang sedang
berkembang. Dengan sodoran tema tesebut, seniman berkesempatan membaca
persoalan seputar isu-isu kontemporer yang terkait dengan realitas sosial
yang dialami dan dipahami perupa sebagai individu anggota suatu masyarakat.
Dari sini terlihat jelas posisi perupa sebagai bagian dari masyarakat yang
diasumsikan dapat mengekspresikan sepenggal potret suatu realitas sosial
dengan bahasa visual yang bebas dan memperlihatkan pencarian yang kuat dan
tajam. Problema sosial bisa muncul dari ruang sosial yang sempit atau luas.
Dimensinya dapat dilihat dari pelbagai indikator seperti kemiskinan,
keserakahan, dominasi, korupsi, asusila, kejahatan, kebisingan, kemacetan,
kemunafikan, kebrutalan, kemewahan, dan sebagainya.
Dalam problema itu, secara menyeluruh memperlihatkan alienasi individu atau
masyarakat dari konfigurasi sosial secara global. Aliensi dapat dipahami
sebagai bentuk keterpinggiran, ketidakberdayaan, dan keterasingan individu
atau masyarakat dari dinamika sosial. Entitas yang teralienasi akan menjadi
sebuah paradoks dalam struktur masyarakat modern, dan posisinya selalu dalam
bingkai "ahistoris".
Dalam tafsir M. Natsir Amrulloh, keterasingan itu sebenarnya adalah risiko
dari tindakan kita. Dalam karya berjudul Cloning (digital print, neon box,
100 cm x 200 cm, 2007), perupa muda kelahiran Jombang 23 Juli 1983 ini,
menunjukkan pemaklumannya akan sebuah program penciptaan baru, bukan sekadar
alat tetapi makhluk hidup. Kita diajak membayangkan, beberapa tahun ke depan
kita tidak perlu repot-repot pergi ke kantor urusan agama (KUA) untuk
menikah dan memiliki keturunan. Kita tinggal desain seperti apa manusia yang
akan kita ciptakan, Kita bisa atur bagaimana manusia ini berkembang, sesuai
dengan sifat, karakter, perilaku yang kita inginkan. Kita buat manusia
pegawai negeri, manusia pegawai bank, manusia pegawai swasta, tentara,
satpam, atau diri kita sendiri.
Benny Wicaksono, perupa Surabaya yang aktif melakukan eksplorasi perupaan
pada media baru, menghadirkan Organic VJ. Sebuah penampilan video "real
time" dengan menggunakan CCTV dan video mixer. Gambar bergerak yang
dipancarkan di layar adalah hasil dari karya manual yang dikombinasikan
dengan video mixer sehingga menimbulkan gambar-gambar yang tak bisa
dibayangkan sebelumnya.
Karya ini merupakan ikhtiar seniman dalam menangkap memori imajinasinya
terhadap sejarah alternatif yang sedang digalinya. Karya berpijak di tengah
perkembangan teknologi di tengah masyarakat secara naratif bersejarah
melahirkan individu kreatif. Dalam penghadiran karyanya, seniman mempunyai
ruang lebih besar untuk imajinasi, menorehkan pengalaman artistik dalam
kreasinya. Mulai dari masalah ketahanan urban, wajah kekacauan, wajah
globalisasi, merupakan taman yang menyemaikan persoalan manusia dan
kehidupannya.
Perkembangan seni rupa di Jawa Timur, dengan biennale yang diikuti generasi
perupa baru ini semakin menunjukkan dinamika yang menjanjikan. Dinamika itu,
memang, tak hanya berada di kota besar seperti Surabaya, tetapi menyebar
hampir di seluruh kota.
Berbagai kegiatan pameran seni rupa sering dilaksanakan, termasuk diskusi
seni rupa di kota-kota yang menunjukkan gairah berkesenian secara baik. Dari
kegiatan itu, tercatat kemunculan sejumlah generasi baru yang akhir-akhir
ini semakin beragam. Di antara mereka tetap ada yang setia melukis (Joni
Ramlan, Hadi Sucipto, Winarno, M. Rizky, Elyeser, Choirul S. Sabarudin, Tri
Moeljo, Romdhon, Mirza Said, Gatot Pujiarto, Fathur Rojib, dan Arif WibowoA)
dan seni patung (Ahmad Daldiri dan Totok Priyoleksono).
Cukup banyak yang mulai menekuni karya seni rupa yang berbasis pada
eksplorasi media baru, seperti seni video (Agus Sam, Benny Wicaksono, Koko
Triono, Astu P.), animasi (Ahmad Rofiq-Ainaki), instalasi multimedia
(Jopram, Jenny Lee, Watoni dkk., Dukan Wahyudi, Ruwaidah, M. Taufik), sound
art (Helmi), dan digital art (Natsir Amrulloh, Waluyo Hadi).
Bila ada harapan, semakin membuka jalan bagi perkembangan seni rupa di Jawa
Timur dalam perbincangan nasional, bahkan pada skala yang luas lagi, bukan
sesuatu impian. Bukankah hakekat penyelenggaraan biennale dan even-even seni
rupa lainnya merupakan ikhtiar ke arah betapa arena seni rupa tidaklah
menyempit pada satu wilayah atau kawasan semata.
Biennale Jawa Timur 2007 ini ditujukan demi menggali informasi dan pemahaman
yang lebih baik dan mendalam terhadap berbagai perkembangan seni rupa di
Jawa Timur dalam kontribusi bagi perkembangan seni rupa di Indonesia. Di
dalamnya merangkum tema dan problematika dalam relasi sosial dan kreativitas
seni rupa di Jawa Timur. (*)
*) Riadi Ngasiran, penelaah seni rupa, tinggal di Surabaya
Rabu, 29 Oktober 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar